Hukum Pembagian Harta Goni Gini Jika Yang Bekerja Istri

 

Pertanyaan :

Pak, ada saudara saya berangkat ke Taiwan, dia berangkat tuh diijinin sama suaminya. Dia punya anak satu tinggal sma bapaknya, saudara saya tiap kirim uang ke suaminya, tapi uang kiriman itu habis buat 3M (maen, minum, madon/(main perempuan)). Terus saudara saya tuh tahu tentang kelakuan suaminya yang sering 3M itu, jadi dia minta cerai. Sekarang suaminya tuh ngancam-ngancam terus, kalau misalkan istrinya ngajak cerai si suaminya tuh nuntut minta setengahan harta yang dimiliki, padahal harta yang dimiliki itu hasil kerja istrinya jadi TKI di luar negeri. Nah yang mau saya pertanyakan, apakah suaminya berhak nuntut hasil dari kerja istrinya itu?

Melati – Indramayu.

 

Jawaban :

Terima kasih atas pertanyaannya.

Harta gono gini atau harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan, artinya sejak dilangsungkan perkawinan baik suami yang bekerja maupun istri yang bekerja ketika terkumpul hartanya maka itu dinamakan harta bersama atau harta gono gini. Dasar hukumnya adalah Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) yang berbunyi sebagai berikut :

“Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.”

Kemudian, bagaimana kalau terjadi perceraian, apakah suami berhak atas harta bersama atau harta gono gini tersebut meski harta yang dimiliki itu hasil kerja istri?

Mengenai harta bersama atau harta gono gini jika terjadi perceraian maka pembagiannya diatur menurut hukumnya masing- masing. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 37 UU Perkawinan yang berbunyi :

“Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.”

Mengingat dalam permasalahan tersebut di atas pasangan suami istri merupakan pasangan yang beragama islam maka mengenai harta bersama jika terjadi perceraian pembagiannya diatur menurut Kompilasi Hukum Islam yakni diatur dalam Pasal 97 KHI yang berbunyi sebagai berikut :

“Janda atau duda cerai masing- masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.”

Dari ketentuan peraturan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perceraian maka janda atau duda cerai masing- masing berhak mendapatkan seperdua (1/2) dari harta bersama atau harta gono-gini meskipun harta benda yang dimiliki merupakan hasil dari kerja istri. Jadi jika terjadi perceraian dan mantan suaminya tidak menerima karena tidak dibagi harta bersama atau harta gono-gininya maka mantan suaminya berhak menuntut bagiannya meski harta benda yang dimiliki hasil kerja istri selama perkawinannya.

Demikian, semoga bermanfaat.

Toni, S.H.

4 Comments

  • ridwan

    Pak mau tanya kalo istrinya tidak…hadir di persidangan…misal nya cuti trs berangkat lagi keluar negri atau gugat cerai dari luarnegri apa kah bisa dalam pembagian harta gono gini
    Dan juga apakah sah atau tidak dalam perceraian .walaupun suaminya mengikuti persidangan dan menjawab tidak ingn menandatangani surat cerainy pak….????

  • Ardiansyah Prayitno

    Terima kasih…. sangat bermanfaat… mudah difahami penjelasannya…

  • Rini-Jakarta

    Selamat sore pak, saya ingin bertanya jika seandainya seorang istri sebelum menikah sudah mempunyai tabungan, dan tabungan itu dibelikan rumah pada saat setelah menikah, apakah rumah tersebut menjadi harta gono gini juga jika mereka bercerai?
    Terimakasih

  • Anonim

    bagaimana kalau yang bekerja hanya suami??

  • Write a Comment